<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=38565273&amp;blogName=Sekilas+tentang+hari+hari+ku&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fdaun-teh.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fdaun-teh.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Gallery



Patner

Tips Memuji dan Dipuji dalam Islam

Sunday, March 23, 2008

Menyambung pembicaraan di blog sahabatku, berikut ada artikel yang mungkin bisa kita jadikan referensi dalam memuji
---------------------------------------------------------------------
Di antara fenomena umum yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, adalah fenomena pujian.

Secara garis besar, pujian bisa diklasifikasikan dalam 3 bentuk :
1.Pujian yang diucapkan untuk menjilat,
2.Pujian yang sifatnya hanya basa-basi belaka,
3.Pjian yang diucapkan sebagai ekspresi kekaguman.

Bila disikapi secara sehat dan proporsional, pujian bisa menjadi modal positif yang dapat memotivasi kita agar terus meningkatkan diri. Namun, kenyataannya, pujian justru lebih sering membuat kita lupa daratan, lepas kontrol, dan seterusnya. Semakin sering orang lain memuji kita, maka semakin besar potensi kita untuk terlena, besar kepala, serta hilang kendali diri.
Padahal Allah Swt. mengingatkan dalam firmanNya: "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (Qs. Al-Najm; 32)
Agar dapat menyikapi pujian secara sehat, Nabi Saw. memberikan 3 kiat yang sangat menarik untuk diteladani.

Pertama, selalu mawas diri supaya tidak sampai terbuai oleh pujian yang dikatakan orang. Oleh karena itu, setiap kali ada yang memuji beliau, Nabi Saw. menanggapinya dengan doa: “Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang dikatakan oleh orang-orang itu.” (HR. Al-Bukhari) Lewat doa ini, Nabi Saw. mengajarkan bahwa pujian adalah perkataan orang lain yang potensial menjerumuskan kita. Ibaratnya, orang lain yang mengupas nangka, tapi kita yang kena getahnya. Orang lain yang melontarkan ucapan, tapi malah kita yang terjerumus menjadi besar kepala dan lepas kontrol.

Kedua, menyadari hakikat pujian sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain. Karena, sebenarnya, setiap manusia pasti memiliki sisi gelap. Dan ketika ada seseorang yang memuji kita, maka itu lebih karena faktor ketidaktahuan dia akan belang serta sisi gelap kita.
Oleh sebab itu, kiat Nabi Saw. dalam menanggapi pujian adalah dengan berdoa: “Dan ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui (dari diriku)”. (HR. Al-Bukhari)

Dan kiat yang ketiga, kalaupun sisi baik yang dikatakan orang lain tentang kita adalah benar adanya, Nabi Saw. mengajarkan kita agar memohon kepada Allah Swt. untuk dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang lain. Maka kalau mendengar pujian seperti ini, Nabi Saw. kemudian berdoa: “Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira”. (HR. Al-Bukhari) Selain memberikan teladan kiat menyikapi pujian, Nabi Saw. Dalam keseharian beliau juga memberikan contoh bagaimana mengemas pujian yang baik. Intinya, jangan sampai pujian yang terkadang secara spontan keluar dari bibir kita, malah menjerumuskan dan merusak kepribadian sahabat yang kita puji.

Ada beberapa teladan yang dapat disarikan dari kehidupan Nabi Saw., yaitu di antaranya :
Pertama, Nabi Saw. tidak memuji di hadapan orang yang bersangkutan secara langsung, tapi di depan orang-orang lain dengan tujuan memotivasi mereka. Suatu hari, seorang Badui yang baru masuk Islam bertanya tentang Islam. Nabi menjawab bahwa Islam adalah shalat lima waktu, puasa, dan zakat. Maka Orang Badui itupun berjanji untuk menjalankan ketiganya dengan konsisten, tanpa menambahi atau menguranginya. Setelah Si Badui pergi, Nabi Saw. memujinya di hadapan para Sahabat, “Sungguh beruntung kalau ia benar-benar melakukan janjinya tadi.” Setelah itu beliau menambahi, “Barangsiapa yang ingin melihat penghuni surga, maka lihatlah Orang (Badui) tadi.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim, dari Thalhah ra.)

Kedua, Nabi Saw. lebih sering melontarkan pujian dalan bentuk doa. Ketika melihat minat dan ketekunan Ibn Abbas ra. dalam mendalami tafsir Al-Qur’an, Nabi Saw. tidak serta merta memujinya. Beliau lebih memilih untuk mendoakan Ibn Abbas ra.: “Ya Allah, jadikanlah dia ahli dalam ilmu agama dan ajarilah dia ilmu tafsir (Al-Qur’an).” (HR. Al-Hakim, dari Sa’id bin Jubair) Begitu pula, di saat Nabi Saw. melihat ketekunan Abu Hurairah ra. Dalam mengumpulkan hadits dan menghafalnya, beliau lantas berdoa agar Abu Hurairah ra. dikaruniai kemampuan untuk tidak lupa apa yang pernah dihapalnya. Doa inilah yang kemudian dikabulkan oleh Allah Swt. Dan menjadikan Abu Hurairah ra. sebagai Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.
Pujian yang dilontarkan orang lain terhadap diri kita, merupakan salah satu tantangan berat yang dapat merusak kepribadian kita. Pujian dapat membunuh karakter seseorang, tanpa ia sadari. Oleh karena itu, ketika seorang Sahabat memuji Sahabat yang lain secara langsung, Nabi Saw. menegurnya: “Kamu telah memenggal leher temanmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Bakar ra.)

Senada dengan hadits tersebut, Ali ra. berkata dalam ungkapan hikmahnya yang sangat populer, “Kalau ada yang memuji kamu di hadapanmu, akan lebih baik bila kamu melumuri mulutnya dengan debu, daripada kamu terbuai oleh pujiannya.” Namun ketika pujian sudah menjadi fenomena umum ditengah-tengah masyarakat kita, maka yang paling penting adalah bagaimana menyikapi setiap pujian secara sehat agar tidak sampai lupa daratan dan lepas kontrol; mengapresiasi setiap pujian hanya sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain; serta terus berdoa kepada Allah Swt. agar dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, kalaupun perlu memuji seseorang adalah bagaimana bisa mengemas pujian secara sehat.. Toh memuji tidak mesti dengan kata-kata, tapi akan lebih berarti bila diekspresikan lewat dukungan dan doa. Sehingga dengan demikian, kita tidak sampai menjerumuskan orang yang kita puji.
Ustadz Abdullah Hakam Syah, Lc

Ditulis: Admin » Komentar: » Beri Komentar

Friday, November 09, 2007

APa tandanya naksir..???

Sebagai seorang manusia, kita ditempatkan pada dua hal, mencintai dan dicintai. Dalam bahasa yang lain, kadang kita berada di posisi mencintai tapi kadang di posisi lain. Seorang teman pernah curhat ke saya, kalau saat ini dia sering mendapat SMS dari beberapa akhwat yang bersedia menjadi istrinya. Wow! Terus terang saya kaget, karena saya baru menjumpai fenomena itu sekarang. Parahnya, ternyata teman saya ini termasuk orang yang tidak pandai menangkap sinyal bahwa dia sedang ditaksir atau di cintai akhwat. LAlu seringkali jadi pertanyaan, bagamaina mengetahui kalau seseorang lagi naksir kita?
Ada baiknya kita memeprhatikan beberapa tanda yang menunjukan kalau dia lagi naksir barat sama kita.

1. sering banget MC,telepon dan SMS
Seperti suatu ungkapan 'tidak ada angin dan tidak ada hujan'. tiba tiba dia telepon atau SMS, Dalam arti tidak ada keperluan apa-apa yang penting, dia sering sekali telepon dan SMS anda. setiap hari atau bahkan hampir setiap jam dering teleponya selalu mencari anda dan SMSnya menbanjiri inbox handphone anda. isinya pun tisak terlalu penting, kebanyakan hanya seputar menayakan kabar padahal baru saja ketemu. intinya pertanyaan-pertanyaan sepele dan dilakukan dalam waktu yang sering. ini menandakan kalau dia selalu memikirkan anda dan ingin sekali selalu dekat dengan anda dan berkomunikasi terus dengan anda. makanya sebagai senjata diluncurkanlah serangan serangan lewat telapon atau SMS.

2. sering minta maaf
Dalam pmbicaraan dia mengatakan kata maaf. terutama saat dia baru saja bicara tapi anda masih sedikit terdiam. padahal terdiam itu kadang kadang karena mungkin masih memikirkan jawabannya, tetapi dia sudah buru buru minta maaf. juga kalau di pikirkan baik baik kata maaf itu tidak diperlukan karena memang tidak ada yang salah. semua itu karena dia begitu takut kalau menyinggung perasaan anda. padahal anda belum mengatakan atau bereaksi apa apa kalau itu salah. dia selalau ingin tampil sebaik baik di depan anda.

Bersambung.....
pegel jarinya buat nulis.. penasaran ya.. menunggu point berikutnya ^^Emo Smile

Ditulis: Admin » Komentar: » Beri Komentar

Wednesday, November 07, 2007

Terlelap sejenak

Suatu kenikmatan tersendiri, yang mungkin jarang sekali banyak di nikmati bagi orang orang yang banyak memiliki berbagai aktifitas.
sampe sampe wantu untuk istirahat pun tersita untuk sekedar menyelesaikan kerjaan, begitu pentingnya dunia kerja seolah olah istirahat tidak menjadi penting lagi. badan begitu banyak di masuki obat-obatan penambah stamina dan vitamin dan berbagai macam obata-oabtan , apalah namanya..... yang kadang tidak kita pikirkan efek sampingnya..

coba anda rasakan di tengah kesibukan anda yang begitu padatnya.. ada luangkan waktu sedikit sekedar untuk mengistirahatkan pikiran anda.

nikmat tak perlu harus kita nilai dengan uang. di sinilah kenikmatan akan terasa manakala kita terlamapau lelah dan bisa terlelap sejenak di tengah tengah katifitas yang tengah kita lakukan.
"alhamdulillah" buga rasanya setelah terbangun dan semua rasa lelah pun terasa hilang dan kembali.. penuh tenaga.

ngiri kadang sama abang tukang becak.. kok bisa ya..... ????

Ditulis: Admin » Komentar: » Beri Komentar